5 Tips Mengatasi Quarter Life Crisis Tanpa Takut

wanita yang menghadapi quarter life crisis

5 Tips Mengatasi Quarter Life Crisis Tanpa Takut

quarter life crisis

Setiap transisi fase usia seringkali menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kebanyakan orang. Memang tidak mudah beranjak ke fase baru. Apalagi fase quarter life crisis. Ketidaksiapan diri menyebabkan digrandrungi kegelisahan. 

Seolah isi kepala kian mempertanyakan, “duh gimana kalau nggak bisa melewatinya nanti ya? Gue nggak mau gagal.” atau “kok hidup mereka mulus-mulus aja sih?” atau beragam pikiran yang mengganggu lainnya. Wajar kok kalau kamu sedang di fase itu. Apalagi kalau kamu sekarang di rentang usia 20-35 tahun.

Fase quarter life crisis bisa saja kita alami bahkan tanpa kita sadari. Sayangnya, kebanyakan orang hanya melaluinya tanpa tahu bagaimana cara mengatasinya.

Apa Itu Quarter Life Crisis?

Istilah Quarter Life Crisis sedang ramai-ramainya dibicarakan. Bahkan jurnal, penelitian, atau buku dengan kata kunci “quarter life crisis” bisa kita temukan dimana-mana. Tetapi apa sebenarnya Quarter Life Crisis itu? Quarter life crisis atau krisis seperempat abad adalah kondisi kebimbangan saat seseorang memasuki fase kedewasaan. 

Biasanya tanda-tandanya yakni, hidup yang terasa tidak terarah, hidup seolah beban yang berat, pencarian identitas diri, waktu yang tidak optimal, serta berbagai kegelisahan tentang kehidupan yang dialami. Umumnya, quarter life crisis ini cenderung dialami mereka yang berusia 20an hingga awal 30an tahun.

Bagaimana sih tanda-tanda Quarter Life Crisis?

Sebelum mencoba mengatasi quarter life crisis, pastikan kamu sudah mengenali tanda-tandanya. Tujuannya adalah supaya kita nggak mudah terbawa stres karena ternyata sedang dalam fase itu. Kamu juga jadi lebih tenang menghadapi masa-masa sulit quarter life crisis. Jadi, bagaimana tanda-tandanya? Yuk simak!

Merasa tersesat karena bingung dengan tujuan hidup

Saat kita merasa bukan lagi anak-anak yang hanya cukup mengikuti perintah orang tua, mungkin muncul sebuah pertanyaan tentang bagaimana berdiri di atas kaki sendiri. Kita pun mulai berpikir, proses seperti apa yang mau kita jalani? 

Tentu sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tujuan hidup harus sudah kita tentukan. Di fase quarter life crisis, menentukan tujuan hidup rasanya amat berat. Kita merasa terombang-ambing dalam kehidupan yang tak menentu. Rasanya seperti mengerjakan rutinitas tapi tidak tahu untuk apa. Jika mendapat pertanyaan tentang cita-cita, kita tidak yakin dengan jawaban kita sendiri. Inikah yang aku ingin kejar?

Fase ini sering terjadi pada seseorang yang baru saja lulus kuliah, bingung setelah ini mau berkarier seperti apa. Di kala banyaknya pilihan karier tersedia, tetapi kita masih bingung apakah jalur karier ini sesuai dengan kapasitas diri. Dan bagaimana di masa depan nanti dengan karier yang akan kita geluti ini?

Terus menerus membandingkan pencapaian diri dengan pencapaian orang lain

Kita berada di era dimana informasi terbuka luas melalui internet. Berselancar di sosial media ibarat candu rutinitas yang sulit kita hindari. Tak jarang pula, berseliweran gambaran kehidupan teman-teman yang diposting melalui sosial media mereka. Mirisnya, hal itu ternyata justru menimbulkan insecure atau minder karena kita mulai membandingkan pencapaian kita dengan pencapaian orang lain.

Kok dia bisa sih jadi mahasiswa terbaik? Padahal gue udah belajar dengan giat. Wah si anu udah nikah aja, hmm… sedangkan gue masih nggak bisa lepasin jabatan jomblo gue padahal kayaknya cakepan gue deh. 

Ah, dan segudang perbandingan lainnya. Pada masa quarter life crisis, kita seringkali menjadikan apa yang dialami orang lain sebagai standar kebahagiaan kita. Tentunya, kalau ini terus kita biarkan akan menjadi bumerang di kemudian hari.

Mengerjakan sesuatu tanpa ada motivasi

Berbagai aktifitas kita kerjakan, entah dari suruhan dosen, boss, atau bahkan orang tua kita. Pada masa quarter life crisis ini, malah bukan kebahagiaan yang kita dapati. Melainkan, rasa hambar saat mengerjakannya. Loh, mengapa bisa demikian? Penyebabnya adalah karena kita merasa tidak termotivasi yang melakukan pekerjaan tersebut. Kita tidak punya alasan dari hati nurani kita, mengapa harus mengerjakan itu dengan optimal.

Tuntutan lingkungan sekitar yang bikin diri tertekan

Setiap orang memiliki lingkungannya sendiri, entah itu membuat nyaman atau justru sebaliknya. Kadang kita tidak bisa menghindari atau pergi dari lingkungan itu karena memang sudah terikat didalamnya. Contohnya, lingkungan keluarga. 

Akan tetapi, dalam situasi tertentu lingkungan seolah menuntut kita untuk mengikuti standar mereka. Contoh kasus, saat orang tua menuntut anaknya untuk bekerja di perusahaan BUMN supaya nanti di masa tua lebih terjamin finansialnya. Pada kenyataannya, tidak semua anak bisa diberikan tuntutan seperti itu. 

Setiap orang memiliki dunianya sendiri, kebahagiaannya sendiri yang tidak bisa kita samaratakan dengan pandangan orang tua. Meskipun orang tua memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada si anak. Namun, tuntutan yang rasanya sangat sulit untuk ditolak bisa saja membuat diri tertekan, bahkan hingga ke titik depresi.

Merasa tidak pernah siap untuk langkah baru

Generasi millennial cenderung betah di zona nyaman. Wajar kok karena di zona nyaman lah, kita menemukan kebahagiaan tersendiri, terlepas dari berbagai tuntutan hidup. Akan tetapi, saat kita mulai memasuki gerbang quarter life crisis, kita mulai berpikir apakah zona nyaman ini pantas untuk terus kita nikmati? Dan sampai kapan kita terlena di zona nyaman ini? 

Kita hanya melihat beberapa orang sibuk berlari menuju garis finish mereka masing-masing. Kita merasa diam di tempat mematung sebagai penonton atas perjuangan mereka. Di fase quarter life crisis, justru keberanian kita terasa menciut. Kita tidak yakin, bisa berlari seperti mereka.

Jadi, bagaimana cara mengatasi Quarter Life Crisis ini?

Fase quarter life crisis mungkin memang sulit sekali dihindari. Tetapi bukan tidak mungkin kok. Kamu hanya perlu mempersiapkan dirimu tentang bagaimana kamu menyikapinya nanti. 

Bagaimana setelah paham tanda-tanda tadi? Atau, jangan-jangan kamu merasa sedang mengalami fase ini? Tenang, salurehat sudah menyiapkan tips terbaik untukmu! Pastikan kamu bukan hanya menyimak, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yaa.

mengatasi quarter life crisis

1. Kenali dirimu lebih baik

Kita sudah memahami bahwa quarter life crisis merupakan situasi penuh kecemasan. Nah, kecemasan-kecemasan seperti itu sebenarnya dapat kita tepis jika kita sudah benar-benar memahami diri kita sendiri. Tanyakan kepada diri dan coba ingat-ingat, apa yang sebenarnya aku harapkan? apa saja kelebihan dan kekuranganku? Dan apa yang sebenarnya aku butuhkan untuk mengatasi kelebihan dan kekuranganku? Temukan dahulu itu semua, maka kita akan menemukan jati diri kita yang sebenarnya.

2. Mulai rencanakan tujuan hidupmu secara matang

Merencanakan tujuan

 

Sumber : Pinterest.com

Menentukan tujuan hidup adalah sesuatu yang tidak boleh terlewatkan. Ibaratnya, tanpa tujuan hidup, kita hanya akan mengikuti sumber air mengalir kemana. Tanpa benar-benar mampu mengarahkan perahu yang kita tumpangi. Maka mulai tentukan tujuan hidupmu dari berbagai sisi. Misalnya, sisi keuangan, kebiasaan, karier, spiritual, dan lain-lain yang menurutmu krusial.

3. Sesekali cobalah detox social media

Sosial media ibarat candu. Sesekali kita harus rehat sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan orang lain yang sebetulnya tidak benar-benar kita butuhkan. Ini bukan untuk memutuskan tali silaturahmi, tetapi lebih kepada bagaimana menyelamatkan mental kita. 

Di saat kita mulai goyah pada jalur hidup kita sendiri, sebisa mungkin tidak semakin parah karena melihat mereka yang justru lebih baik di jalur hidup yang sama dengan kita. Salah satu caranya adalah dengan berhenti membuka sosial media dalam sementara waktu. Kamu bisa memulainya dalam satu minggu untuk percobaan.

Baca juga : 5 Cara Menjaga Kesehatan Mental Disaat Pandemi Covid-19

4. Terus upgrade skill dan belajar tanpa batas

Pada fase quarter life crisis, kita mungkin merasa hidup ini seperti kompetisi yang ketat. Orang-orang berbondong-bondong untuk menjadi yang terdepan di bidangnya masing-masing. Saat itulah, perasaan insecure mulai muncul karena merasa kemampuan diri yang tertinggal jauh. 

Maka, solusinya adalah kita hanya perlu belajar terus menerus apapun itu dan tidak mudah berpuas diri atas ilmu yang didapat. Hingga saatnya tiba, kita akan menikmati sendiri hasil pembelajaran kita.

Baca juga : Ini Dia 5 Rekomendasi Buku Self-Improvement Untuk Motivasi Kamu

5. Temukan support system hidupmu

Bergerak sendiri memang terasa berat. Apalagi saat kita sedang berada di titik terendah, rasanya menyerah adalah pilihan terbaik. Namun, jika kita dikelilingi orang-orang yang tulus mendukung kita di situasi apapun, maka kita tidak akan kehabisan motivasi. 

Selalu ada orang-orang yang membangunkanmu saat kamu jatuh tersungkur. Mereka akan menunggumu dengan setia di titik puncak tanpa berharap imbalan. Inilah yang disebut dengan support system. Temukanlah orang-orang itu dan jaga mereka di hidupmu.