Apakah Kamu People Pleaser? Menyenangkan Orang Tapi Menderita

People pleaser

Apakah Kamu People Pleaser? Menyenangkan Orang Tapi Menderita

“Eh, tolongin aku dong ngerjain ini. Kamu bisa bantu kan?” Seketika, kamu menjawab “iya aku bantuin sini”. Padahal jauh di dalam lubuk hatimu, kamu keberatan. Kamu sadar bahwa pekerjaanmu lebih penting daripada pekerjaan dia. Tapi apalah daya, kamu tidak tega menolak. Hmm… sepertinya kamu tergolong kaum ‘people pleaser deh’.

People pleaser
Seseorang yang minta bantuan people pleaser | Freepik.com

 Menjadi orang baik memang suatu keharusan. Tapi bagaimana versi baik yang seharusnya? Apakah yang sekedar sering membantu orang? Yaitu, mereka yang tak pernah segan untuk memprioritaskan kepentingan orang di atas kepentingan dirinya.

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, alangkah baiknya kita sama-sama mengenali secara mendalam tentang istilah People Pleaser, dari mulai definisinya sampai dampaknya. Dengan begitu, kemampuan self-awareness kita juga akan semakin membaik. 

Baca juga : Self Awareness Adalah Kesadaran Diri, Sekadar Itukah?

Daftar Isi

Apa Itu People Pleaser?

Susan Newman, seorang psikolog Amerika Serikat, mendefinisikan people pleaser adalah seseorang yang selalu menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Sepintas people pleaser terkesan sangat mulia. Kamu seolah-olah menjadikan segenap hidupmu demi bermanfaat bagi banyak orang.

Di sisi lain, senyumanmu  pada mereka, berakhir dengan  suatu penyesalan.  Kamu sebenarnya sadar ini bukan kemauanmu, hanya saja kamu tidak mau mengecewakan mereka. Alhasil, kamu seringkali terlupakan dalam masalah ide atau pendapat. Sebab di awal, kamu merasa tidak berhak menyuarakan pendapat. Rasanya terlalu insecure untuk meyakinkan apa maumu kepada mereka.

Mengapa Menjadi People Pleaser?

Pada dasarnya, alasan utama seseorang menjadi people pleaser adalah karena kesulitan mengenal dirinya sendiri. Ia tidak paham apa keinginannya sebenarnya. Bahkan ia seperti merasa dilema, berada di sebuah jembatan persimpangan. Bisikan pikiran pun bermunculan seperti  mereka sangat penting di hidupku, tetapi aku juga punya kehidupan sendiri yang harus ku perjuangkan.

Alasan berikutnya adalah karena ingin terlihat unggul di hadapan orang lain. Ada kebutuhan besar mengenai eksistensi diri. Kesadarannya untuk tidak terlihat rendahan, mendorongnya untuk terlihat “shine”. Dan cara yang harus ia tempuh adalah dengan membantu orang lain. Dengan begitu, ia akan terlihat hebat, bahkan menjadi orang pertama yang ditunggu kontribusinya. Pokoknya, bagaikan super hero deh!

Alasan ketiga adalah merasa perlu memenuhi ekspektasi orang lain. Hal ini terjadi karena kebiasaan mengikuti standar orang lain yang sebetulnya sulit dipuaskan. Misalnya, standar orang tua.

Contoh kasus: seorang anak yang sejak kecil dituntut ayahnya untuk selalu menjadi ranking 1 di sekolahnya.  Hingga akhirnya, ketika ia bertemu kegagalan akademik, ia mengalami depresi. Ketakutan yang amat besar jika ayahnya sampai mengetahuinya.

Saat beranjak dewasa pun, boleh jadi ia hidup di bawah bayang-bayang ekpektasi orang lain untuk menjadi terbaik. Mengecewakan seseorang yang amat penting dalam hidup ibarat suatu kesedihan. Sedangkan, membahagiakan seseorang ibarat keharusan yang dipaksakan.

Tanda-tanda People Pleaser

Sebelumnya kita memang sudah menyinggung tentang sebagian ciri-ciri people pleaser. Nah, untuk versi lengkapnya bisa kamu simak di bawah ini :

  • Mudah menyalahkan diri sendiri
  • Membutuhkan pujian untuk bantuan yang kamu berikan
  • Merasa takut jika membuat orang lain marah karena kekeliruannya
  • Merasa bertanggungjawab atas perasaan orang lain
  • Mudah sekali setuju dengan pendapat orang lain
  • Tidak mengakui kehebatan diri sendiri, lebih cenderung menunggu mendapat pengakuan
  • Pekerjaan orang lain harus optimal, sedangkan pekerjaan sendiri terabaikan
  • Menjadi orang pertama bagi orang-orang yang butuh pertolongan
  • Tidak tega meminta bantuan kepada orang lain

Bagaimana? Adakah tanda-tanda itu pada dirimu? Kamu bisa coba renungi terlebih dahulu ya, dear.

Bagaimana Dampaknya Bagi Kehidupan?

Kamu tentu berpikiran bahwa menjadi people pleaser tentu berdampak negatif. Namun tahukah kamu, di baliknya juga terdapat dampak positif meskipun tak sebanyak dampak negatifnya. Jadi, apa saja dampak positif dan negatifnya yang perlu kita ketahui supaya semakin aware?

Dampak Positif People Pleaser

Berikut adalah beberapa dampak positif yang bisa kamu dapatkan:

1. Menjadi bermanfaat bagi orang di sekitarmu

Kalau kamu seorang people pleaser, wah berarti kamu sangat ringan tangan untuk membantu orang lain yang kesulitan. Tak jarang, mereka menganggap kamu adalah orang yang berkontribusi besar dalam masalah mereka. Bonusnya, kamu jadi memperoleh apresiasi atas bantuanmu kepada mereka.

2. Kamu jadi lebih mandiri

Seorang people pleaser memang tidak mudah bergantung pada orang lain. Selama ia bisa mengerjakannnya sendiri, ia berusaha tidak meminta tolong orang lain. Bahkan pada situasi genting sekalipun, boleh jadi ia masih tetap memendam rasa “butuhnya” pada mereka. Ia berpikiran, selama dirinya bisa membantu mereka, maka seharusnya ia tidak boleh terlihat payah.

3. Terhindar dari konflik dengan orang lain

Apakah kamu menganggap hidup damai adalah suatu kebahagiaan tersendiri? Kalau iya, berarti kamu seorang people pleaser. Biasanya kamu akan berusaha keras untuk menghindari konflik dengan orang lain. Bagimu, tidak punya masalah dengan orang lain adalah cara terampuh untuk tetap diterima lingkungan sekitar.

Dengan berusaha menuruti keinginan orang lain, mereka mungkin akan terus menyukaimu. Sehingga masalah hubungan tidak terganggu.

4. Skill mu cenderung meningkat

Bagaimanapun, kalau kamu sering membantu orang lain, skill kamu pun ikut naik. Meskipun kamu tidak benar-benar menyadarinya. Tetapi, peningkatan skill itu akan terasa jangka panjangnya. Sebab, seseorang yang sering mengajari orang lain dapat membantu daya ingat yang lebih baik. Bahkan kamu semakin kritis terhadap masalah-masalah baru setelah banyak membantu pekerjaan mereka.

Dampak Negatif People Pleaser

Tentu kalau ada dampak positif, maka ada dampak negatif. Apa saja dampak negatifnya? Wajib simak nih!

1. Menyakiti diri sendiri

Terlalu sering mengiyakan permintaan orang lain, pada akhirnya memang bisa berakibat sesuatu yang lebih besar. Meskipun sesuatu yang lebih besar itu hanya terpendam bagaikan harta karun. Seorang people pleaser bisa saja menyakiti dirinya sendiri karena merasa bersalah. Padahal rasa bersalah itu hanya pikiran yang menggantung dalam pikiran kita.

2. Kesusahan sendiri

Kamu memang terlihat mandiri karena tidak butuh bantuan siapa-siapa. Akan tetapi, pada kenyataannya, kamu kerepotan dengan segala bebanmu. Sebenarnya kamu butuh bantuan, tetapi takut mengungkapkaannya.

3. Merasa tertuntut sebagai pribadi yang harus sempurna

Saking takutnya terlihat cacat, kamu berusaha semaksimal mungkin untuk selalu terlihat sempurna. Padahal, setiap manusia memperoleh kelebihan dan kekurangan yang menjadi branding kita. Penilaian orang lain memang menjadi poin penilaian terbesar. Ujung-ujungnya hal tersebut jadi boomerang tersendiri bagi kamu dan orang sekitar.

Saat memaksa diri untuk selalu tampil sempurna sama dengan membangun hubungan yang buruk dengan dirimu sendiri. Robot saja sebagus apapun teknologinya, tidak sempurna tanpa bantuan manusia. 

Baca juga : OCD vs Perfeksionis, Kamu yang Mana?

4. Merasa overwhelmed bekerja

People pleaser mungkin saja menumpuk kerjaan hingga segunung tumpukan. Sayangnya, pekerjaan yang menumpuk tersebut justru merupakan pekerjaan orang lain. Lantas, kamu merasa overwhelmed alias sudah mabok dengan pekerjaan. Wah kalau iya, sepertinya kamu butuh rekreasi. 

Stop being a people pleaser
Pinterest.com

People pleaser memang baik untuk kehidupan orang, tetapi apa kabar dengan hidupmu? Kalau itu sudah menyebabkan hidupmu terganggu, berarti sikap itu sebaiknya kurangi pelan-pelan yaa! Sebab hidup bukan hanya untuk menyenangkan orang lain, melainkan tentang menyenangkan “mereka dan diri sendiri”. Masih ingatkah kamu tentang konsep self-love? Namun apalah daya, kalau kamu masih saja menyiksa dirimu dengan seperti ini, sama saja kamu tidak mencintai dirimu sendiri. 

Baca juga : Cara Mencintai Diri Sendiri Yang Perlu Kamu Lakukan Setiap Hari

"Kamu bukan super hero, kamu manusia biasa yang perlu hubungan timbal balik."