Self Awareness Adalah Kesadaran Diri, Sekedar Itukah?

Self awareness adalah kesadaran diri

Self Awareness Adalah Kesadaran Diri, Sekadar Itukah?

Self awareness adalah kesadaran diri.

Sumber : Freepik.com

Katanya, self awareness merupakan kesadaran diri. Tetapi, tahukah kamu sebuah riset menarik oleh Dr. Tasha Eurich? Ia menemukan bahwa 95% responden merasa mereka memiliki self-awareness yang sangat baik. Padahal ketika dianalisis lebih lanjut, hanya 15% orang-orang yang benar-benar baik self-awareness-nya.

Setelah mengetahui riset di atas, kira-kira kamu termasuk kelompok yang mana sekarang? 15% atau justru 85% ?

The least competent people are the most confident in their abilities

Kutipan di atas memiliki makna yang mendalam. Orang-orang yang terlalu percaya diri dengan kemampuan mereka biasanya adalah orang-orang yang justru kurang kompeten di bidangnya. Itulah mengapa, betapa pentingnya kemampuan self awareness yang baik.

Pengertian Self Awareness

Menurut Mark Manson, self awareness atau kesadaran diri adalah kemampuan kita untuk mengamati dan mengidentifikasi pikiran, perasaan, dan impuls kita, serta menentukan apakah itu didasarkan pada kenyataan atau tidak. Kesadaran diri yang baik bisa kita peroleh melalui refleksi dan introspeksi.

Perlu kamu ketahui bahwa self awareness ini tidak akan mencapai titik objektif maksimal. Sebab ini masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli bahkan sepanjang sejarah filsafat. Meskipun begitu, kamu tetap perlu mengusahakan self awareness agar mendekati objektif. Dengan cara apa? Kamu bisa membandingkan dirimu dengan kenyataan yang terjadi.

Misalnya, kamu merasa dirimu sangat perfeksionis. Tetapi coba ingat-ingat lagi, apakah kamu perfeksionis dalam semua hal? Atau hanya bidang tertentu saja? Sehingga ketika kamu gagal dalam suatu bidang, kamu tidak menyalahkan dirimu habis-habisan. Kamu akan sadar bahwa tidak semua hal harus berjalan sempurna. Beberapa hal mungkin tidak bisa kamu handle dengan baik dan itu wajar.

Simak juga : OCD vs Perfeksionis, Kamu Yang Mana?

Pentingnya Self Awareness

Kesadaran diri sangat kita butuhkan dalam kehidupan. Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki self awareness yang baik cenderung lebih percaya diri dan kreatif. Hal ini karena mereka cukup mengenal potensi dirinya dengan baik.

Tak heran, kalau kamu sudah memiliki kesadaran diri yang baik, kamu dapat membuat keputusan yang lebih baik, membangun relasi yang lebih baik, dan berkomunikasi lebih efektif.

Menurut Markmanson.net, berikut beberapa keuntungan yang bisa kamu dapatkan jika memiliki self awareness yang baik:

  • Membantu pengendalian diri, kreativitas, kebanggaan, dan harga diri
  • Memprediksi pengembangan diri, penerimaan, dan proaktif
  • Memudahkan pengambilan keputusan
  • Menghasilkan laporan diri yang lebih akurat
  • Diperlukan untuk mengembangkan pengendalian diri.

Jenis-jenis Self Awareness

Tasha Eurich, seorang peneliti dan psikolog organisasi, dan tim penelitinya menemukan dua kategori kesadaran diri, yang penting kita ketahui, yakni: kesadaran diri internal, dan kesadaran diri eksternal.

Pertama, kesadaran diri internal, adalah seberapa jelas kamu melihat nilai-nilaimu, hasrat, dan aspirasimu, dan seberapa baik standar tersebut sesuai dengan lingkungan dan reaksi kamu (yang meliputi pikiran, perasaan, perilaku, kekuatan, dan kelemahan). Seringkali kesadaran diri internal dikaitkan dengan pekerjaan yang lebih tinggi dan kepuasan hubungan, kontrol pribadi dan sosial, dan kebahagiaan.

Kedua, kesadaran diri eksternal, kemampuan untuk melihat dengan jelas bagaimana orang lain memandang kamu. Seseorang yang tahu bagaimana orang lain melihatnya, biasanya lebih berempati. Pemimpin yang dapat melihat bagaimana karyawannya memandang mereka, biasanya memiliki hubungan yang lebih terikat dengan karyawannya. Karyawan cenderung memiliki hubungan yang lebih baik dengan atasan akan merasa lebih puas terhadap atasannya.

Jadi, bagaimana? Sudahkah kamu memiliki self awareness yang baik?

Contoh Self Awareness

Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak sekali contoh self awareness. Kali ini, Salurehat akan menjabarkan contoh-contohnya dari segi menyadari kondisi mental, hubungan, kepribadian diri, dan potensi diri.

1. Menyadari Kondisi Mental

Kita semua tahu bahwa berolahraga, makan sehat, dan tidur yang cukup dapat membantu menjaga kesehatan mental kita. Namun, cara paling penting untuk menjaga kesehatan mental adalah menjadi sadar diri. Nah, ada sebuah cara praktis meningkatkan self awareness untuk mentalmu, yakni dengan bertanya pada dirimu sendiri, seperti:

  • Apa yang saya rasakan di tubuh saya sekarang?
  • Pikiran apa yang melintas di benak saya? Apa yang saya katakan pada diri saya sendiri?
  • Emosi apa yang sedang saya alami?
  • Apa yang ingin saya lakukan?
  • Apa yang saya lakukan sebagai konsekuensi dari apa yang saya pikirkan dan rasakan?

Dengan menyadari itu semua, kamu akan lebih mampu mengelola mentalmu. Selain itu, kamu juga akan lebih mudah tahu ketika ada yang tidak beres pada dirimu. Misalnya, insecure, depresi, anxiety, dan lain sebagainya.

Walaupun begitu, kamu tidak bisa serta merta mendiagnosis kondisi mentalmu secara akurat. Jika kamu merasa sudah tidak mampu menghadapi dirimu sendiri, jangan sungkan untuk menemui psikiater yaa.

2. Self Awareness dalam Hubungan

Masih ingat dengan konsep self awareness eksternal?  Jenis self awareness ini berkaitan erat dengan hubungan sesama manusia. Dalam hal ini, self awareness dapat kita gambarkan ibarat hubungan pimpinan dengan bawahannya.

Seorang pimpinan yang memiliki kesadaran diri yang baik akan lebih menghargai bawahannya. Dia memandang dirinya seperti memandang orang lain. Sehingga komunikasi yang berjalan diantara keduanya menjadi lebih efektif. Belum lagi, kepuasan bawahan terhadap pimpinannya juga akan meningkat.

Lantas, bagaimana cara meningkatkan self awareness dalam suatu hubungan? Sederhana saja. Kamu bisa melakukannya dengan mengikuti tips berikut:

  • Lebih menghargai keberadaan dan pendapat orang lain
  • Mendengar apa yang mereka inginkan dan selaraskan dengan keinginan diri secara bijak
  • Memandang orang lain seperti memandang diri sendiri sehingga kesombongan atau rendah diri bisa diredam
  • Mengelola emosi dengan baik

3. Self Awareness dalam Kepribadian dan Potensi Diri

Mengenal kepribadian dan potensi diri juga bagian dari self awareness. Masih banyak di luar sana yang ketika ditanya, “kamu tuh orang yang seperti apa?” atau “apa aja kelebihan dan kekurangan kamu?”, mereka seketika bingung dan butuh waktu beberapa menit untuk merenungkannya.

Baca juga : Mengenal Diri, Kepribadianmu Introvert atau Ekstrovert?

Miris memang, kita bisa mengenal orang lain dengan baik, tetapi diri sendiri tidak. Dampak jika kita tidak mengenal diri dengan baik adalah kita selalu merasa diri kita biasa saja bahkan mungkin di bawah rata-rata. Parahnya lagi, kalau itu semua sampai berujung pada ketidaktahuan seseorang tentang “mau dibawa kemana hidupku?”. Bahaya banget kan? Hidup akan cenderung mengikuti air mengalir atau mengikuti bagaimana tren kehidupan orang lain.

Baca juga : 5 Tips Mengatasi Quarter Life Crisis Tanpa Takut

Kenalan dengan Dunning-Kruger Effect

Ada lagi lain kasus, dimana seseorang terlalu percaya diri dengan skill nya. Dia merasa sudah jago banget, atau bahkan merasa sudah ahlinya. Nah, kalau kamu merasa demikian, kamu harus berkenalan dengan Dunning-Kruger Effect.

Dunning-Kruger Effect adalah kondisi ketika kita merasa terlalu percaya diri atau merasa diri sangat bernilai. Teori ini mengingatkan kita agar tidak jemawa. Ingatlah, di atas langit masih ada langit. Kita pun sebagai manusia tidak luput dari kesalahan.

Ketika kita mencoba mempraktikkan strategi pemasaran dengan sosial media Instagram misalnya, kita merasa konten-konten kitalah yang terbaik hingga mendatangkan 100 followers baru setiap bulannya. Padahal ternyata followers yang banyak tersebut, hanya sedikit yang benar-benar mendatangkan income untuk bisnis kamu. Seketika itu juga kamu menyadari bahwa masih banyak yang perlu kamu pelajari. Pada akhirnya, kamu akan sadar sendiri bahwa kamu perlu lebih bijak dalam proses belajar.

Kekeliruan tentang Self Awareness

Kita semua setuju bahwa solusi dari self awareness merupakan introspeksi diri. Namun, yang menjadi masalah terbesar adalah introspeksi bisa menjadi tidak efektif kalau kita melakukannya dengan cara yang salah. Ketika kita sedang introspeksi diri, kemudian kita jadi lebih banyak bertanya “mengapa” kepada diri kita. Kita mencari tahu alasan-alasan atau penyebab sesuatu terjadi kepada diri kita.

Ternyata, terlalu banyak bertanya “mengapa” justru tidak efektif untuk meningkatkan self awareness loh. Penelitian telah menunjukkan bahwa kita tidak memiliki akses ke banyak pikiran bawah sadar, perasaan, dan motif yang sedang kita cari.  Sebab pikiran manusia jarang berjalan secara rasional dan penilaian kita jarang bebas dari bias. Kita cenderung cepat menerima sesuatu mentah-mentah, tanpa mempertanyakan validitasnya.

Oleh karena itu, perlu sekali meningkatkan wawasan kita. Kita harus bertanya “apa”, bukan “mengapa”. Pertanyaan “apa” membantu kita tetap objektif, berfokus pada masa depan, dan diarahkan untuk bertindak berdasarkan wawasan baru kita.

Dari tulisan ini, kita semua menjadi semakin paham bahwa self awareness adalah sebuah proses yang berkelanjutan. Selama kita masih bernafas, selama itulah kita terus menerus mempelajarinya. Sebab, kemampuan self awareness seseorang bisa saja naik-turun seiring dengan bagaimana dia di lingkungannya dan bagaimana perkembangan wawasannya.