Toxic Masculinity Yang Membatasi Pria

toxic masculinity

Toxic Masculinity Yang Membatasi Pria

toxic masculinity

Table of Contents

Toxic masculinity adalah suatu tekanan yang di tujukan pada kaum pria agar berperilaku sesuai dengan aturan tertentu. Tentunya, perilaku seseorang tidak bisa semuanya diatur dengan kebiasaan orang umum lainnya ya Teman Rehat. 

Toxic masculinity ini biasanya dikaitkan dengan nilai – nilai yang dianggap harus ada di dalam diri seorang pria. Dimana seorang pria haruslah kuat, tidak boleh lemah, tidak boleh menangis, harus keras, dan tuntutan lainnya. Biasanya, orang – orang yang sering tidak menyadari melakukan tindak toxic masculinity ini sering kali berucap “hih laki kok nangis” “ayo jangan letoy” dan kata kata yang menyepelekan lainnya.

Di lingkungan kita sekarang masih sering sekali terjadi budaya toxic masculinity ini. Ini di karenakan di Indonesia masih memegang teguh budaya patriarki, dimana seorang laki – laki seharusnya yang menjadi pemimpin, menguasai, dan lebih dominan. 

Ini tentunya tidak baik ya Teman Rehat untuk kesehatan mental kita sebagai  laki  –  laki, karena, laki – laki pun juga manusia yang memiliki perasaan dan berhak mengekspresikan perasaannya dan juga menjadi dirinya sendiri. 

Sebenarnya tidak ada peraturan tertentu yang membatasi laki – laki untuk berekspresi selagi mereka tidak merugikan orang lain ya Teman Rehat. Dengan adanya aturan tertentu tentang perilaku seorang laki – laki, ini tentunya sangat membatasi ruang gerak laki – laki, dan dapat menambah beban mental tentunya.

Dampak bagi seorang laki – laki yang tidak memenuhi “standar” umum makna sebagai “laki – laki” ini bisa sangat berbahaya lho Teman Rehat. Seorang korban dari budaya Toxic Masculinity ini bisa mengalami murung, pendiam, minder, tidak percaya diri, insecure, menjadi denial terhadap diri sendiri, bahkan bisa sampai depresi juga lho. 

Dampak ini terjadi karena si korban merasa tidak merasa “cukup” akan standar sorang laki – laki yang telah di tentukan oleh sekitarnya, dan mereka tidak bisa menjadi dirinya sendiri. 

Selain itu, Toxic Masculinity juga bisa mendorong laki – laki untuk menjadi agresif dan memiliki sifat negative terhadap perempuan lho Teman Rehat, sifat atau tindakan negative ini banyak jenisnya lho, seperti, KDRTPelecehan, dan masih banyak lagi.

Contoh dan Sifat Perilaku Toxic Masculinity

Banyak sekali contoh dari perilaku toxic masculinity yang terjadi di sekitar kita lho Teman Rehat, mungkin ada beberapa dari kita yang sudah menyadari sehingga tidak melakukan hal tersebut, tapi tidak sedikit pula yang tidak menyadari bahwa mereka telah atau sedang melakukan perilaku Toxic Masculinity. Berikut Salurehat beri contoh beberapa perilaku Toxic Masculinity :

1. Tidak Boleh Menangis dan Mengeluh.

Dari kecil, kita sudah sering mendengar bahwa laki – laki tidak boleh menangis dan mengeluh apa pun yang terjadi pada diri mereka. Seorang laki – laki, biasanya dituntut harus kuat dalam menghadapi segala rintangan. 

Dan banyak lho dari kita yang laki – laki di didik keras sedari kecil, dengan alasan agar tidak terlihat lembek dan cengen. Tentunya ini tidak benar dan tidak baik untuk psikis kita ya Teman Rehat, apa lagi untuk psikis anak kecil.

2. Melakukan Tindak Kekerasan Pada Orang Lain

Dari didikan yang keras, seorang anak laki – laki sering sekali melakukan tindak kekerasan kepada sekitarnya. Biasanya sih banyak mendapat maklum dari sekelilingnya, karna ya pada mikir kalau anak laki laki memang seharusnya keras. 

Tindak kekerasan jenis apapun sangat tidak layak ya Teman Rehat untuk di maklumi, karena dari tindak kekerasan banyak menimbulkan kerugian untuk sekitar. Lebih baik untuk mengajarkan anak anak kita kelak, untuk menyelesaikan suatu masalah dengan baik, dan tidak menimbulkan tindak kekerasan.

3. Menunjukan Dominasi dan Kekuasaan Terhadap Orang Lain.

Banyak dari laki – laki selalu ingin tampil dominan dan terlihat berkuasa terhadap orang lain. Karena pandangan jika seorang lelaki tidak dominan dan berkuasa bukan lah lelaki seutuhnya. 

Sebagai contoh, Seorang lelaki saat menjadi suami tidak mau mengurus anak, karna dia merasa dia yang berkuasa dan itu tugas wanita untuk merawat dan mengurus anak, padahal kan itu tugas suami istri Bersama. Dan juga sering terjadi saat pemilihan ketua, kepala organisasi, harus selalu laki – laki, tidak boleh perempuan.

4. Melakukan Kekerasan dan Agresivitas Sexual Terhadap Pasangan dan Orang Lain

Dari budaya toxic masculinity ini, laki laki selalu dipandan superior. Dari pandangan tersebut, seorang laki – laki bisa saja berlaku semena – mena terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka bisa saja melakukan kekerasan terhadap orang lain. dan melakukan pelecehan sexual terhadap pasangannya dan orang lain. 

Tentunya budaya ini sangat tidak baik dan berdampak buruk bagi si korban. Ini lah mengapa budaya Toxic Masculinity harus segera kita hilangkan karena dampak buruknya lebih banyak dibandin dampak baiknya.

5. Merasa Tidak Perlu Membela Hak Perempuan dan Kaum Marjinal Lain

Karena merasa superior, kaum laki – laki di budaya Toxic masculinity ini enggan untuk membela hak perempuan dan kaum marjinal lainnya. Mereka meremehkan hak – hak kaum perempuan karena merasa apa yang mereka lakukan tidaklah salah karena itulah yang memang seharusnya mereka lakukan. 

Dengan meremehkan hak – hak perempuan dan kaum marjinal lainnya, ini akan sangat merugikan kaum yang tertindas jika mengalami hal – hal yang tidak di inginkan. Karena pastinya tidak ada hukum yang dapat membela hak – hak perempuan dan kaum marjinal lainnya ini.

6. Mengagungkan Tindakan Berisiko, Seperti Menyetir Kendaraan Dengan Kecepatan Tinggi dan Mengonsumsi Obat Terlarang

7. Enggan Untuk Melakukan Aktivitas Yang Dianggap Hanya Milik Perempuan, Seperti Memasak, Menyapu Rumah, Berkebun, dan Mengasuh Anak

Mengapa Toxic Masculinity Berbahaya?

Toxic masculinity ini sangat berbahaya karena sangat membatasi definisi sifat seorang laki – laki dan mengekang pertumbuhannya dalam masyarakat. Dari pembatasan definisi tersebut, dapat menimbulkan gejolak konflik dalam diri si korban dan tentunya lingkungannya.

Toxic Masculinity juga memberikan beban yang sangat berat bagi mereka yang tidak memenuhi standar sebagai seorang laki – laki yang maskulin. 

Jika seorang pria dibesarkan dalam lingkungan Toxic Masculinity, makai dia akan merasa diterima masyarakat jika dia menunjukan sikap maskulin yang telah di tentukan oleh lingkungannya tersebut, dan mungkin itu sangat berbanding terbalik dengan diri dia yang sebenarnya.

Bahaya Toxic Masculinity Terhadap Perempuan

Toxic masculinity ini tidak hanya berbahaya untuk laki – laki saja lho Teman Rehat. tapi juga berbahaya untuk masyarakat terutama untuk perempuan. 

Karena budaya Toxic Masculinity ini sangat menjunjung dominasi terhadap laki – laki, maka mereka akan merasa dirinya superior dan lebih baik  dan memiliki power sehingga meremehkan perempuan.

Anggapan itu tidak bisa dipungkiri, karena sudah banyak kasus Kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, pelecehan sexual yang terjadi pada perempuan. 

Dari kasus diatas malah banyak yang menyalahi perempuan dengan berbagai alasan, padahal ya tetap saja saat kekerasan terjadi, pelakunya ya yang melakukan kekerasan tersebut kan.

Dari perilaku Toxic Masculinity, Dapat Menimbulkan Efek Buruk Sebagai Berikut :

1. Bullying atau perundungan

2. Kekerasan dalam rumah tangga terhadap pasangan dan anak

3. Kekerasan seksual terhadap pasangan

4. Penyalahgunaan obat-obatan

5. Bunuh Diri

6. Trauma psikologis

7. Kurangnya persahabatan yang tulus

Mencegah Perilaku Toxic Masculinty Pada Anak Sejak Dini

Sejak kecil ada baiknya seorang anak diajarkan perilaku yang baik dan pikiran yang terbuka dengan cotoh perilaku yang di contohkan oleh orang tua mereka. Budaya Toxic Masculinity ini harus dihilangkan dan salah satu cara untuk menghilangkannya adalah dengan memberikan edukasi sejak dini terhadap anak. berikut tips dari salurehat :

 

1. Mengatakan kepada anak ( terutama anak laki – laki) bahwa, mereka bebas untuk menangis dan mengeluh. Dan bebaskan mereka untuk ber-ekspresi sesuai minatnya selagi di jalur yang benar.

2. Hindari ujaran yang merendahkan terhadap perempuan pada anak laki – laki anda seperti “ Kamu kalau menangis itu artinya lemah seperti perempuan” atau “ kamu letoy banget sih kaya perempuan”

3. Ajari konsep konsensual sejak dini yang sesuai dengan umur Si Kecil. Misalnya, sampaikan bahwa setiap orang memiliki batasan yang tidak bisa sembarangan dilewati. Anda juga bisa mengajarkan bahwa tubuh setiap orang adalah milik orang tersebut – sehingga ia tak bisa sembarangan menyentuh atau memeluk tanpa izin orang lain. 

4. Berhati-hati dalam memberikan media hiburan pada anak. Apabila Anda mendeteksi elemen toxic masculinity di film atau buku kesukaannya, Anda bisa memberikan intervensi bahwa elemen tersebut tidak patut untuk dicontoh.