Viral Pria 58 tahun Menikahi Ira 19 tahun: Psikologi Berbicara

menikah dengan yang lebih tua

Viral Pria 58 tahun Menikahi Ira 19 tahun: Psikologi Berbicara

Menikah dengan usia sepantaran sudah biasa. Menikah dengan jarak usia 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun juga biasa. Tetapi bagaimana jika menikah dengan yang jauh lebih tua dengan jarak usia 39 tahun? Wah ini sih memang wajar viral! Lantas, bagaimana menurut psikologi tentang menikah dengan yang jauh lebih tua? Yuk kita bahas satu persatu

menikah dengan yang lebih tua
Sumber : Liputan6

Daftar Isi

Baru-baru ini jagat sosial media heboh dengan pernikahan viral dari kakek Bora (58) dan Ira Fazilah (19). Pernikahan tersebut berlangsung di Desa Bana, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Potret mesra mereka tersebar begitu cepat dan menimbulkan tanda tanya besar bagi warga net.

Apakah mereka menikah karena paksaan? Apakah mereka saling mencintai? Apakah mempelai wanita menikah karena matrealistis?

Kisah Dibalik Pernikahan Bora dan Ira

Mungkin sempat terbesit di kepala kita, bahwa Bora dan Ira menikah karena keterpaksaan. Bagi wanita seusia 19 tahun bisa menikah dengan pria 39 tahun di atasnya, memang terkesan langka di Indonesia. Namun, siapa sangka, Ira sendiri mengakui bahwa itu bukan semata-mata karena paksaan dari pihak manapun.

“Kalau bagi saya, (umur) tidak jadi masalah. Iya, saya mencintai (dengan tulus),” kata Ira kepada detikcom, Sabtu (10/4/2021).

Sebelum menikah, Bora dan Ira pun memang sudah saling mengenal. Meskipun Bora lebih awal mengenal ibunya Ira dan sempat ingin melamar sang ibu. Akan tetapi, ibunya Ira menolak, kemudian menawarkan anaknya, Ira.

Kedekatan dengan Ira pun bermula sejak Ira sering membantu Bora memetik coklat (kokoa). Bahkan, Ira memang sering mengantarkan makanan untuknya ketika Bora bekerja di kebun. Sejak itulah, kakek Bora bercanda bilang menyukainya dan ingin menikahi Ira. Ternyata Ira merespon baik candaan tersebut dan mau menikah dengan kakek Bora.

Ira pun mengungkapkan alasannya mengapa ia menerima pinangan kakek Bora, yaitu supaya bisa merawat kakek Bora.

“Itu karena saya juga kasihan dan dia juga sering sakit. Saya mau merawat dia dengan sebaik-baiknya,” tutur Ira.  

Momen Pernikahan Bora dan Ira

Netizen juga sempat menuduh Ira mau menikah dengan yang jauh lebih tua lantaran karena matrealistis. Mereka mengira seperti itu bukan tanpa fakta yang mendasarinya. Sebab ternyata kakek Bora yang merupakan petani coklat  yang memiki harta cukup menggiurkan.

Rumah kakek Bora

Rumah kakek Bora | Sumber : Bonepos

Demi menikahi Ira, sang pujaan hatinya, Bora memberikan mahar 10 juta rupiah dan 1 hektar kebunnya. Akan tetapi, rumah Bora yang berukuran 4 x 4 meter menangkis semua tuduhan netizen.

“Banyak yang bilang saya matre, kejar harta kekayaan suami. Sementara kami hidup sederhana, rumah kami kecil dan sesuai dengan kebutuhan kami sebagai petani di kampung” kata Ira kepada Kompas.com,  Jumat (10/4/2021).

Kepala Desa Ishak pun juga mengakui bahwa selama ini Bora hidup sederhana seperti kehidupan petani pada umumnya.

“Selama ini Bora memang tinggal seorang diri dan belum pernah menikah. Kehidupannya sederhana, sebagaimana kehidupan normal kami di kampung” kata Ishak.

Pasca menikah pun, Bora dan Ira tetap hidup sederhana dengan tetap romantis satu sama lain.

Pandangan Psikologi Tentang Menikah dengan Usia Yang Lebih Tua

Usia minimal menikah dan jarak perbedaan usia kerap kali menjadi permasalahan bagi seseorang yang hendak menikah. Maka, tidak heran lagi jika seorang wanita mau menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua semisal 30 tahun ke atas, menyebabkan banyak komentar pedas yang mengusik.

Ada yang bilang, menikah sebaiknya jangan jauh-jauh perbedaan usianya. Biar lebih gampang klop-nya. Biar konflik rumah tangga lebih gampang diatasi. Tetapi benarkah itu? Mari kita coba kupas tuntas menurut psikologi!

Jarak Usia Ideal Menurut Psikologi

Pernikahan umumnya di Indonesia, laki-laki menikahi wanita yang lebih muda. Dengan alasan, kalau istrinya lebih muda, akan lebih ngemong alias mudah diatur oleh suaminya. Pria pun kerap kali khawatir wanita akan mendominasi rumah tangga jika wanita berusia lebih tua.

Menurut dr. Seruni Mentari Putri dari KlikDokter, tidak ada kalkulasi khusus mengenai berapa jarak usia ideal di antara pasangan yang mau atau sudah menikah. Semua kembali kepada kesepakatan masing-masing.

Namun yang menjadi perhatian penting adalah usia minimal wanita yang boleh menikah. Jika terlalu tua, misalnya di atas 35 tahun, akan semakin sulit memperoleh momongan. Sedangkan bila terlalu muda, di bawah 17 tahun kemungkinan kematangan fisik dan mental masih belum mumpuni.

Jadi, bisa dikatakan bahwa jarak usia yang terpaut jauh tidak berkaitan langsung dengan kelanggengan pernikahan. Sehingga seharusnya tidak masalah bagi Bora dan Ira berumah tangga. Namun perlu kita ketahui bersama bahwa terdapat faktor-faktor lain yang memicu kelanggengan rumah tangga menurut psikologi, apa saja itu?

1. Kedewasaan pasangan

Usia seseorang memang erat kaitannya tingkat kedewasaan. Usia pertengahan 20-an hingga 30-an menjadi patokan usia ideal untuk menikah. Sebab usia seperti itu sudah cukup dewasa, bukan hanya dari segi umur, tetapi juga kematangan emosional dan pola pikir.

Di usia pertengahan 20 hingga 30 tahun itulah, seseorang biasanya lebih bisa membedakan mana yang hanya sekedar nafsu dan mana yang benar-benar tulus. Bagaimanapun, alasan terbesar menikah sebaiknya karena kamu memang benar-benar tulus mencintai dan menyayanginya. Tujuannya agar rumah tangga bisa berlangsung lama.

Mari kita coba menelisik pernikahan Ira di usianya 19 tahun. Ia menikah dengan Bora berdasarkan ketulusannya untuk merawat Bora dan cinta yang bersemayam di hatinya. Ini menunjukkan kedewasaan seseorang dalam memilih pasangan hidupnya. Bukan semata memuaskan nafsu, melainkan ada alasan kuat di baliknya.

Begitupun juga dengan Bora, dengan usianya 59 tahun, tentu pengalaman hidup tidak perlu kita ragukan. Semakin tua usia biasanya juga memiliki kematangan emosional yang lebih baik sehingga lebih mudah mengayomi pasangannya yang lebih muda.

2. Tingkat pendidikan

Beberapa orang mengira bahwa pendidikan seseorang tidak begitu penting. Tak jarang pula, kita temukan perspektif bahwa perempuan tidak harus berpendidikan tinggi karena ujung-ujungnya akan berada di dapur. Lantas, apa kabar dengan banyaknya kasus-kasus perceraian yang pasangannya berlatar belakang pendidikan rendah?

Memang pendidikan tidak berkorelasi langsung dengan perceraian. Tetapi, ketika seseorang memiliki pendidikan yang lebih baik tentu pola pikir juga lebih baik. Ia akan lebih logis dalam membuat keputusan.

3. Memahami finansial dengan baik

Finansial seringkali menjadi permasalahan dalam rumah tangga. Apalagi, jika lebih besar pasak daripada tiang alias lebih besar pengeluaran daripada pemasukan. Tak jarang pula, konflik rumah tangga bisa terjadi karena ketidakmampuan seseorang dalam mengelola keuangan.

Solusinya, penting untuk di awal membicarakan kondisi finansial bersama-sama. Keterbukaan satu sama lain juga harus ada. Menurut Prita Ghozie, financial planner, pasangan suami istri harus menentukan terlebih dahulu tujuan keuangannya dan siapa yang akan menjadi manager keuangan keuangan dalam rumah tangga; yang bertuga mengelola berbagai aset, investasi, dan pinjaman yang dimiliki keluarga.

Dengan begitu, masalah finansial berapapun nilai uangnya tidak berpengaruh besar pada pernikahan. Sebab, sudah ada saling keterbukaan satu sama lain sehingga mencari solusi finansial bisa lebih mudah. 

4. Tanggung jawab dan komitmen

Salah satu faktor terpenting yang tidak boleh terlewatkan adalah tanggung jawab dan komitmen. Ketika seseorang telah memiliki komitmen yang kuat untuk menikah dengan orang pilihannya, pernikahan yang langgeng bukan tidak mungkin. Sekalipun kamu harus menikah dengan orang yang jauh lebih tua daripada kamu.

Komitmen menandakan seseorang memiliki alasan yang kuat. Sehinga komitmen tersebut akan melahirkan bentuk tanggung jawab. Asam manis kehidupan bahtera rumah tangga tidak mudah menjadi penyebab hancurnya rumah tangga. Begitu juga dengan perbedaan-perbedaan pasangan, justru mudah kita maklumi karena adanya komitmen dan tanggung jawab tersebut.

Baca juga : Pastikan Lagi, Kamu dalam Toxic Relationship atau Bukan?